Sosialisasi Leptospirosis dan Monkeypox

Administrator 28 September 2022 13:42:10 WIB

Rabu (28/9), Dinas Kesehatan Bantul melalui Puskesmas Pandak II memberikan sosialisasi kepada masyarakat Caturharjo tentang Leptospirosis dan Monkeypox. Kegiatan diawali sambutan oleh Lurah Caturharjo, H. Wasdiyanto, S.Si, yang menyampaikan bahwa kasus Leptospirosis di Kalurahan Caturharjo adalah yang tertinggi di wilayah Kapanewon Pandak. Beliau menghimbau kepada masyarakat, terutama petani, agar lebih berhati-hati dan tanggap akan gejala leptospirosis sehingga bisa segera mendapatkan perawatan. Selanjutnya materi disampaikan oleh Sri Wuryani, S.Keb.

Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Bakteri ini dapat menyebar melalui urine atau darah hewan yang terinfeksi. Beberapa hewan yang bisa menjadi perantara leptospirosis adalah tikus, sapi, anjing, dan babi. Leptospirosis menyebar melalui air atau tanah yang telah terkontaminasi urine hewan pembawa bakteri Leptospira. Seseorang dapat terserang leptospirosis, jika terkena urine hewan tersebut, atau kontak dengan air atau tanah yang telah terkontaminasi. Masa inkubasi Leptospirosis antara 2-30 hari biasanya rata-rata 7-10 hari.

Penularan pada manusia dapat terjadi akibat:

  • Kontak langsung antara kulit dengan urine hewan pembawa bakteri Leptospira
  • Kontak antara kulit dengan air dan tanah yang terkontaminasi urine hewan pembawa bakteri Leptospira
  • Mengonsumsi makanan yang terkontaminasi urine hewan pembawa bakteri penyebab leptospirosis

Gejala Leptospirosis:

  • Demam tinggi dan menggigil
  • Sakit kepala
  • Mual, muntah, dan tidak nafsu makan
  • Diare
  • Mata merah
  • Nyeri otot, terutama pada betis dan punggung bawah
  • Sakit perut
  • Bintik-bintik merah pada kulit yang tidak hilang saat ditekan

Langkah Pencegahan dan Pengobatan Leptospirosis:

  • Pastikan air aman untuk diminum dengan cara merebus air hingga matang, terutama jika air diambil dari sumber yang dapat terkontaminasi urine hewan atau limpahan air banjir.
  • Tutup luka atau lecet pada kulit Anda dengan perban atau penutup lain yang kedap air.
  • Hindari menelan, berenang atau, mandi di air banjir atau sumber air apa pun yang mungkin terkontaminasi urine hewan atau limpahan air banjir.
  • Kenakan pakaian pelindung air atau sepatu bot di area banjir atau tanah yang mungkin terkontaminasi kencing hewan.
  • Cegah serangan hewan pengerat dengan menyimpan makanan, air, dan sampah di wadah tertutup.
  • Hindari mengonsumsi makanan yang mungkin sudah bersentuhan dengan tikus.

Monkeypox adalah penyakit yang disebabkan virus monkeypox. Pada asalnya, penyakit ini adalah penyakit zoonosis, yang berarti ditularkan dari hewan ke manusia. Penyakit ini juga dapat menyebar dari manusia ke manusia.

Penularan pada manusia dapat terjadi akibat:

  • Kontak fisik dengan penderita.
  • Monkeypox dapat menular ke manusia melalui kontak fisik dengan hewan terinfeksi. Biasanya adalah hewan pengerat dan primata.

Gejala Monkeypox:

  • Ruam dan lesi di wajah, tangan, kaki, badan, mata, mulut atau kelamin
  • Demam
  • Pembengkakkan kelenjar getah bening
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Lesu

Langkah Pencegahan dan Pengobatan Monkeypox:

  • Lindungi diri anda dengan membatasi kontak dengan suspek atau sudah terkonfirmasi monkeypox atau dengan hewan yang berisiko menularkan.
  • Bersihkan dan disinfeksi lingkungan yang bisa saja terkontaminasi secara teratur.
  • Periksakan diri anda dan kontak erat anda jika anda mengalami gejala monkeypox.
  • Isolasi dilakukan sampai seluruh ruam-ruam kulit kering, mengelupas dan terbentuk lapisan kulit baru dibawahnya.

Harapannya dengan adanya sosialisasi ini dapat mengedukasi masyarakat tentang Leptospirosis dan Monkeypox, sehingga masyarakat bisa mengantisipasi dan menghindari penyebab terjangkitnya bakteri dan virus tersebut.

Komentar atas Sosialisasi Leptospirosis dan Monkeypox

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
Isikan kode Captcha di atas
 

Website desa ini berbasis Aplikasi Sistem Informasi Desa (SID) Berdaya yang diprakarsai dan dikembangkan oleh Combine Resource Institution sejak 2009 dengan merujuk pada Lisensi SID Berdaya. Isi website ini berada di bawah ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik dan Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International (CC BY-NC-ND 4.0) License